GoPresent — Bencana kemarau yang melanda Kabupaten Pohuwato dan berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah mulai mendapat sorotan. Di tengah warga yang harus berjuang mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, peran para anggota DPRD Pohuwato dinilai belum terlihat secara nyata.
Ketua KNPI Marisa, Erik Munandar, mempertanyakan sejauh mana perhatian dan langkah konkret para anggota legislatif dalam merespons persoalan tersebut.
Menurut Erik, kelangkaan air bersih bukan lagi persoalan yang bisa dianggap sepele. Kondisi itu telah dirasakan masyarakat di sejumlah kecamatan, mulai dari Paguat, Marisa, Duhiadaa, Randangan, Wanggarasi, Lemito hingga wilayah Popayato serumpun.
“Sampai hari ini, kita belum melihat gerakan yang benar-benar konkret dari para aleg untuk ikut menyelesaikan persoalan kelangkaan air bersih ini. Padahal masyarakat sudah berhadapan langsung dengan dampak kemarau,” ujar Erik, dikutip Rabu (16/9/2026).
Ia menilai, anggota DPRD sebagai representasi masyarakat seharusnya tidak hanya hadir ketika menjalankan agenda formal pemerintahan. Dalam situasi bencana seperti kemarau, wakil rakyat dinilai perlu turun langsung melihat kondisi masyarakat sekaligus mendorong pemerintah daerah mengambil langkah cepat dan terukur.
Erik juga mengingatkan bahwa kehadiran wakil rakyat seharusnya tidak hanya terlihat ketika momentum politik dan masa kampanye tiba.
“Jangan hanya datang ketika kampanye, ketika membutuhkan suara masyarakat. Justru ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan seperti sekarang, wakil rakyat harus menunjukkan bahwa mereka benar-benar hadir dan bekerja untuk masyarakat,” tegasnya.
Menurut Erik, masyarakat membutuhkan kehadiran anggota DPRD bukan sekadar dalam bentuk kunjungan atau menyerap aspirasi, tetapi juga keberanian untuk memperjuangkan solusi melalui fungsi pengawasan, penganggaran dan kebijakan.
“Kalau masyarakat sedang kesulitan mendapatkan air bersih, di situlah seharusnya wakil rakyat hadir. Jangan sampai rakyat hanya dicari saat membutuhkan suara, tetapi ketika rakyat membutuhkan pertolongan justru tidak terlihat,” ujarnya.
Erik mendorong DPRD Pohuwato untuk segera menjadikan persoalan air bersih sebagai agenda serius. Menurutnya, penanganan tidak boleh hanya bersifat sementara, tetapi harus dibarengi dengan solusi jangka panjang agar persoalan yang sama tidak terus berulang setiap musim kemarau.
“Kami berharap para anggota DPRD membuka mata dan turun langsung melihat kondisi masyarakat. Jangan menunggu persoalan ini semakin besar baru kemudian bergerak. Masyarakat membutuhkan kehadiran dan solusi, bukan sekadar janji,” tandas Erik.












